Source : Map.bms.wikipedia
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Agustus 2016
-
07.54.00
-
Unknown
-
Sejarah
,
Seputar Cilacap
-
1 comment
Kecamatan Karang Pucung kuwe salah siji kecamatan nang kabupaten Cilacap. Penduduk Kecamatan Karang Pucung rata-rata wong tani, bisa tani sawah utawa ladang. Sebagian cilik ana uga sing dagang. Maskote penduduk khususe Kecamatan Karang Pucung kue Terminal. Aja dumeh, senajan terminale ora gede tapi terkenal tekan maring endi-endi, termasuk Jakarta lan Bekasi. Terminal Karangpucung terkenal sebab ngubungna kota-kota gede neng Jawa bagian kidul, contone dadi penghubung Jakarta-Jogja.
Menurut sejarah Karang Pucung berasal dari kata Karang yang berarti tempat dan pucung yang berarti buah pohon pucung atau klewek. Karangpucung didirikan oleh mbah Prayadana yang sekarang makamnya ada di kuburan belakang kecamatan.
Source : Map.bms.wikipedia
Source : Map.bms.wikipedia
Minggu, 07 Agustus 2016
-
16.26.00
-
Unknown
-
Sejarah
-
No comments
Majenang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Majenang merupakan batas ujung barat Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Barat. Kecamatan ini merupakan jalan utama lintas provinsi antara Jateng dan Jabar yang dihubungkan dengan Cilacap dan Banjar. Begitu lepas Jabar, memasuki Majenang dengan pemandangan/lanskap hutan karet di sepanjang jalan.
LOKASI / LETAK
Majenang adalah salah satu kecamatan di kabupaten Cilacap yang letaknya paling utara (berjajar ke Barat bersama kecamatan Wanareja dan Dayeuh Luhur. Batas-batasnya : sebelah Utara - Kab. Brebes
sebelah Timur - Kec. Cimanggu
sebelah Selatan - Kec. Cipari
sebelah Barat - Kec. Wanareja
KONDISI GEOGRAFI
Sebagian besar wilayah Kec. Majenang adalah pegunungan (hampir 60%) dan selebihnya dataran, mulai dari ketinggian sekitar 100 meter s.d. 1200-san meter di atas permukaan laut. Tanahnya hampir semuanya subur, baik yang berupa pegunungan maupun dataran. Curah hujan sangat tinggi, pada musim penghujan hampir setiap hari hujan turun. Ada 3 (tiga) sungai yang cuku deras yaitu : Sungai Cijalu, Sungai Cilopadang dan Sungai Cileumeuh. Di kanan kiri sungai-sungai tersebut terdapat sawah-sawah dan ladang-ladang yang subur dan indah.
Hutannya masih sangat lebat berupa belantara dengan pohon hutan asli. Bukit-bukitnya sebagian besar terjal dengan kemiringan 25 derajat s.d. 75 derajat. Mata air hampir ada dimana-mana, bahkan di musim kemarau tidak pernah kekurangan air.
Hasil hutan berupa kayu dan hasil kebun buah-buahan serta sayuran berlimpah. Sawah tersebar mulai dari dataran hingga perbukitan yang landai sehingga boleh dibilang surplus beras.
Alamnya dipenuhi panorama indah, sehingga banyak tempat yang bisa dijadikan obyek wisata alam, mulai perbukitan yang hijau hingga air terjun yang sejuk.
Di perut buminya ada bebrapa jenis tambang : - Tambang emas di desa Sadahayu (belum di eksplor) - Tambang batu alam di desa Cibeunying (gunung Cungakan) - Tambang pasir dan batu kali ada di sepanjang sungai Cijalu
DEMOGARFI
Majenang merupakan daerah "peralihan" Sunda-Jawa dalam arti bahwa di wilayah ini bahasa ibu yang mereka pakai terdiri dari Sunda dan Jawa, namun Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa- nya boleh dibilang agak kasar dibanding Sunda di Jawa Barat atau Jawa di Jawa Tengah sebelah Timur. Sudah biasa desa sebelah sini berpenduduk Jawa dan sebalah sana berpenduduk Sunda.
-
16.17.00
-
Unknown
-
Sejarah
-
No comments
- sie =empat lak =enam cap =puluh.
- sie lak cap
4-60 pada waktu itu kapal kapal cina yang lewat laut selatan membeli empat pikul lada seharga 60 mata uang mereka, hal tersebut jauh lebih murah dari pada membeli di tuban atau banten dan menyebar dari mulut
kemulut harga tersebut jadi nama tempat itu.
2. Versi Sunda
ci asal dari kata cai = air =sungai.lacap
3. Versi Jawa Tengah
Cilacap berasal dari "clacap" yaitu logatnya orang cilacap dan banyumas yang dikenal juga logat jawa "ngapak"
Source : Kaskus

Fokuscilacap.com, Jakarta – Sukardjo Wiryopranoto lahir di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah pada tanggal 5 Juni 1903. Ia merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia yang berangkat dari latar belakang Sekolah Hukum yang tamat pada tahun 1923.
Setamat sekolah hukum, ia mengawali karirnya dengan mengabdi pada Pengadilan Negeri di beberapa kota dan kemudian pada tahun 1929, ia mendirikan kantor pengacara “Wisnu” di Malang, Jawa Timur.
Ia juga sempat menjadi Wakil Walikota Malang yang merangkap sebagai anggota Dewan Provinsi, sekaligus diangkat menjadi pengacara pada Pengadilan Tinggi Surabaya.
Pengalamannya bekerja di pengadilan dan pengacara menambah kemahirannya dalam melakukan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui jalur politik dan diplomat.
Seiring dengan itu, Sukardjo menjadi anggota Volksraad pada tahun 1931 dan bersama Dr. Soetomo ia mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Menyusul pada zaman pendudukan Jepang, Sukardjo memimpin beberapa media massa.
Aktif di bidang politik membuatnya semakin dekat dengan masyarakat. Melihat banyak pemuda yang tidak punya keahlian, maka untuk membina para pemuda, pada tahun 1934 ia membuat suatu gagasan dengan mendirikan Perkampungan Kerja. Dalam perkampungan itu, para pemuda dilatih menjadi ahli kayu, ahli besi, ahli pertanian, dan lain-lain.
Pada masa pendudukan Jepang, ia giat bergerak di bidang kewartawanan, memimpin surat kabar Asia Raya. Kegiatan itu dilanjutkan sesudah Indonesia merdeka dengan turut membina majalah Mimbar Indonesia.
Kegiatan di bidang politik meningkat sejak tahun 1936 setelah ia menjadi anggota Partai wartawan, GuruIndonesia Raya (Parindra). Sebagai anggota Parindra, ia sering berkunjung ke daerah-daerah, antara lain ke beberapa kota di Sumatera. Dalam sidang Volksraad tahun 1937, ia mengajukan mosi agar orang-orang Indonesia diberi kesempatan untuk menjadi walikota. Mosi itu didukung oleh sebagian besar anggota Volksraad, tetapi ditolak oleh Pemerintah Belanda.
Di samping aktif dalam Parindra, ia aktif pula sebagai sekretaris Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Pada 22 Agustus 1940, Sukarjo menyampaikan seruan Gapi yang menuntut agar di Indonesia dibentuk parlemen, dan pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen.
Kegiatan di bidang politik dimulai kembali sesudah pengakuan kedaulatan. Ia pernah menduduki jabatan sebagai Duta Besar Rl di Vatikan, Duta Besar Luar Biasa untuk Italia dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Rakyat Cina.
Pada tahun 1962 ia diangkat menjadi Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam jabatan itu ia berusaha mempengaruhi negara-negara lain agar membantu perjuangan Indonesia membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Kala itu, ia juga sangat berjasa membantu pemerintahan Indonesia mencari dukungan negara lain dalam rangka pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda.
Setelah kemerdekaan, ia menjadi Duta Besar RI di beberapa negara dan terakhir bertugas sebagai wakil tetap Republik Indonesia di PBB. SukardjoWafat pada tanggal 23 Oktober 1962 di New York kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Atas jasa-jasanya kepada negara, Sukarjo Wiryopranoto dianugerahi gelarpahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 342 Tahun 1962, tanggal 29 Oktober 1962. (drw/fkc & dari berbagai sumber)
-
06.00.00
-
Unknown
-
Sejarah
-
2
comments
1. Zaman Kerajaan Jawa
Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram
Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478)
daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit,
Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang
dari timur ke arah barat :
- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur
- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh
kerjaan Islam Banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur
Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu
seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur dibawah kekuasaan
Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.
Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan
Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap
yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .
Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh
yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.
Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682
diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum,
sebelah utara Karawang ke Bagelen.
Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap
adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.
2. Zaman Penjajahan Belanda
Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas)
dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :
"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan
selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap, maka sambil
menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya,
satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".
Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan
oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841
Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas
dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap,
yang menjadi tempat kedudukan Kepala Bestuur Eropa Asisten Residen
dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent.
Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf
dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.
Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto
dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan
masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.
Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk
Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier
tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut:
Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng.
Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng,
menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan
mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut.
Dari sana ke arah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu.
Dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai
cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks Kawedanan Kroya,
karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub-bagian
Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan
Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.
Pada masa Residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah
Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur
Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda
dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86,
dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A
disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu
permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi
dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya
memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial
Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856
Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi
Regentschap (Kabupaten Cilacap).
Daftar Nama Bupati Cilacap :
1. R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)
2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)
3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)
4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)
5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)
6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)
7. R. Witono (1952-1954)
8. Raden Mas Kodri (1954-1958)
9. D.A Santoso (1958-1965)
10. Hadi Soetomo (1965-1968)
11. HS. Kartabrata (1968-1974)
12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)
13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)
14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)
15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)
16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)
17. H. Tatto Suwarto Pamuji (2011-sekarang).
Source : cilacapkab.go.id
Kamis, 04 Agustus 2016
Bentuk dan Wujud Lambang Daerah
Bintang Segi Lima;
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah yang berkepribadian Pancasila.
Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah yang berkepribadian Pancasila.
Tugu Pahlawan dengan lidah api diatas gelombang Laut Selatan;
Tugu Pahlawan melambangkan perjuangan heroik masyarakat Daerah dimasa Revolusi 1945.
Lidah api menunjukkan hitungan 5, berarti perjuangan yang berdasarkan Pancasila.
Gelombang Laut Selatan dengan lekuk gelombang berjumlah 4 dihubungkan dengan lidah api (5) berarti bahwa perjuangan yang berkobar-kobar sejak Revolusi 45 berdasarkan UUD 45 dan jiwa juang 45.
Tugu Pahlawan melambangkan perjuangan heroik masyarakat Daerah dimasa Revolusi 1945.
Lidah api menunjukkan hitungan 5, berarti perjuangan yang berdasarkan Pancasila.
Gelombang Laut Selatan dengan lekuk gelombang berjumlah 4 dihubungkan dengan lidah api (5) berarti bahwa perjuangan yang berkobar-kobar sejak Revolusi 45 berdasarkan UUD 45 dan jiwa juang 45.
Kembang Wijayakusuma;
Merupakan lambang Wahyu Negara pada saat masih berbentuk kerajaan.
Wijayakusuma menjadi nama pengenal khas dan merupakan lambang hidup daerah.
Kembang ini hanya ada dan tumbuh di Cilacap saja (bunga gaib).
Merupakan lambang Wahyu Negara pada saat masih berbentuk kerajaan.
Wijayakusuma menjadi nama pengenal khas dan merupakan lambang hidup daerah.
Kembang ini hanya ada dan tumbuh di Cilacap saja (bunga gaib).
Padi dan Kapas;Melambangkan keluhuran cita-cita masyarakat Daerah mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam mengemban Amanat Penderitaan Rakyat.
Padi dan Kapas bermakna kegiatan masyarakat di bidang pangan dan sandang.
Jumlah butir padi 17 dan kapas 8, dihubungkan dengan Kembang Wijayakusuma yang berkelopak 4 dan berdaun bunga 5, menunjukkan betapa keramatnya Proklamasi Tujuhbelas Delapan Empatlima.
Padi dan Kapas bermakna kegiatan masyarakat di bidang pangan dan sandang.
Jumlah butir padi 17 dan kapas 8, dihubungkan dengan Kembang Wijayakusuma yang berkelopak 4 dan berdaun bunga 5, menunjukkan betapa keramatnya Proklamasi Tujuhbelas Delapan Empatlima.
Ikan Hiu;Ikan Hiu melambangkan Cilacap berada di daerah pantai laut selatan, penghasil ikan, dan sebagian dari masyarakatnya adalah nelayan.
Warna Lambang Daerah dan maknanya
Warna Merah Hati :
keberanian, keuletan, kewaspadaan serta melambangkan perjuangan yang gagah berani
keberanian, keuletan, kewaspadaan serta melambangkan perjuangan yang gagah berani
Warna Kuning Emas :
keluhuran didalam mengemban tugas
keluhuran didalam mengemban tugas
Warna Putih :
kesucian jiwa
kesucian jiwa
Warna Hitam :
ketenangan dan ketabahan
ketenangan dan ketabahan
Warna Hijau :
kesuburan dan kemakmuran
kesuburan dan kemakmuran
Warna Biru Laut / Biru Tua :
Cilacap terletak di pantai selatan, Samudera Indonesia
Cilacap terletak di pantai selatan, Samudera Indonesia
Seluruh warna menggambarkan kepribadian masyarakat Daerah.
Motto
JALA BHUMI WIJAYAKUSUMA CAKTI
JALA : Air, Lautan
BHUMI : Tanah, Daratan
WIJAYAKUSUMA : Bunga Kejayaan
CAKTI : Ilmu Tertinggi
Artinya adalah :
"Kemampuan membudidayakan bumi, laut, air untuk kemakmuran"
Sesanti
Bersih Elok Rapi Ceria Hijau Aman Jaya
Langganan:
Postingan
(
Atom
)




